"Tien
Soeharto memang agak terganggu dengan perkembangan film kita di masa
itu yang cenderung seksploitasi. Masalahnya yang dihadapi adalah pasar
yang sangat menuntut"
Alkisah
pada akhir 1970-an, seorang distributor film dari Padang, Sumatera
Barat, bertamu ke kantor seorang produser film di Jakarta. Produser film
ini belum punya banyak pengalaman di bisnis film bioskop. Dia baru saja
membuat satu film. Tak dia sangka, ternyata susah betul ‘berdagang’
film di Indonesia saat itu.
Sudah ada beberapa penyalur film dari sejumlah daerah yang datang dan menawarkan harga, tapi sangat sedikit yang menyodorkan angka yang cocok dengan kalkulator bisnisnya. Seorang penyalur memberinya nasihat agar film yang dia buat berikutnya lebih gampang dijual di daerah-daerah.
“Buat apa adegan seperti itu? Potong saja,” penyalur itu, seperti dikutip J.B. Kristanto dalam bukunya, Nonton Film Nonton Indonesia, memberi saran setelah menyaksikan film itu.Nasihat berikutnya membuat produser yang masih kurang pengalaman itu termangu. “Mestinya ditambah seksnya. You bikin film terbalik sih. Drama 70 persen, seks 30 persen. Seharusnya dibalik perbandingannya.”
Para distributor itu rata-rata memang pedagang. Hanya ingin mengeruk untung secepatnya. Tamu dari Padang itu pun, sebelum menonton filmnya, sudah langsung menodong dengan pertanyaan. “Bagaimana seksnya? Hot nggak?” dia memberondong pertanyaan. Pertanyaan yang membuat produser itu gelagapan mencari jawabannya.
Memang ada satu masa, film-film yang banyak diproduksi di negeri ini dibuat dengan asumsi bahwa resep jitu untuk membuat film bioskop yang laris manis hanya itu-itu saja ; paha, dada, dedemit atau baku pukul tak ada akhir dari awal hingga tutup layar. Dari judul-judul semacam ini, bisa ditebak seperti apa isi filmnya ; Tragedi Tante Seksi, Satu Ranjang Dua Cinta, Sembilan Janda Genit, Kuda-kuda Binal, atau, Goyang Sampai Tua.
Sudah ada beberapa penyalur film dari sejumlah daerah yang datang dan menawarkan harga, tapi sangat sedikit yang menyodorkan angka yang cocok dengan kalkulator bisnisnya. Seorang penyalur memberinya nasihat agar film yang dia buat berikutnya lebih gampang dijual di daerah-daerah.
“Buat apa adegan seperti itu? Potong saja,” penyalur itu, seperti dikutip J.B. Kristanto dalam bukunya, Nonton Film Nonton Indonesia, memberi saran setelah menyaksikan film itu.Nasihat berikutnya membuat produser yang masih kurang pengalaman itu termangu. “Mestinya ditambah seksnya. You bikin film terbalik sih. Drama 70 persen, seks 30 persen. Seharusnya dibalik perbandingannya.”
Para distributor itu rata-rata memang pedagang. Hanya ingin mengeruk untung secepatnya. Tamu dari Padang itu pun, sebelum menonton filmnya, sudah langsung menodong dengan pertanyaan. “Bagaimana seksnya? Hot nggak?” dia memberondong pertanyaan. Pertanyaan yang membuat produser itu gelagapan mencari jawabannya.
Memang ada satu masa, film-film yang banyak diproduksi di negeri ini dibuat dengan asumsi bahwa resep jitu untuk membuat film bioskop yang laris manis hanya itu-itu saja ; paha, dada, dedemit atau baku pukul tak ada akhir dari awal hingga tutup layar. Dari judul-judul semacam ini, bisa ditebak seperti apa isi filmnya ; Tragedi Tante Seksi, Satu Ranjang Dua Cinta, Sembilan Janda Genit, Kuda-kuda Binal, atau, Goyang Sampai Tua.

Suzanna
Martha Frederika van Osch, Sang Ratu Film Horor yang sudah bermain film
sejak awal 1950-an, tentu saja juga pernah melewati masa-masa itu. Pada
1970, film yang dia bintangi bersama Rachmat Kartolo, Bernapas Dalam Lumpur, bikin heboh dengan adegan-adegan syur. Tak cuma heboh, film ini juga laku keras.
“Waktu itu film indonesia lagi mati angin. Dia muncul dengan berani,” ujar Ilham Bintang, wartawan film dan mantan anggota Lembaga Sensor Film (LSF). Pemerintah yang masih sibuk membenahi perekonomian relatif tak seberapa ketat memangkas adegan-adegan panas. “Sensor sebetulnya ada saat itu, tapi mereka masih mencoba menoleransi supaya industri perfilman bisa bangkit.”
Bersama suami pertamanya, Dicky Suprapto, Suzanna mendirikan perusahaan Tidar Djaja Film. Perusahaan ini sempat memproduksi beberapa film hingga awal 1970-an, di antaranya Tuan Tanah Kedawung, film horor Beranak Dalam Kubur, dan Bumi Makin Panas. Dua film terakhir ini disutradarai oleh Ali Shahab.
Dalam Beranak Dalam Kubur, film horor pertama Suzanna, Ali mengambilalih tugas sebagai sutradara di tengah proses produksi. Ali, mantan wartawan hiburan itu, diminta oleh Dicky menggantikan Awaludin. Menurut Ali, dia sempat menjadi make-up artist untuk Rapi Film yang didirikan oleh Gope T. Samtani pada 1968. “Saya lupa judul filmnya apa. Kebetulan yang jadi pemeran utamanya Suzanna. Karena saya makeup artist, saban hari ketemu juga, lama-lama kami jadi bersahabat,” Ali menuturkan.
“Waktu itu film indonesia lagi mati angin. Dia muncul dengan berani,” ujar Ilham Bintang, wartawan film dan mantan anggota Lembaga Sensor Film (LSF). Pemerintah yang masih sibuk membenahi perekonomian relatif tak seberapa ketat memangkas adegan-adegan panas. “Sensor sebetulnya ada saat itu, tapi mereka masih mencoba menoleransi supaya industri perfilman bisa bangkit.”
'Mestinya ditambah seksnya. You bikin film terbalik sih. Drama 70 persen, seks 30 persen. Seharusnya dibalik perbandingannya'Hari pertama tayang di bioskop, kata Ilham, tanggapan penonton masih biasa saja. Baru setelah media-media heboh memberitakan film tersebut, penuh lah penonton film yang disutradarai Turino Djunaedy itu. “Bahkan di Surabaya, ada pembantu-pembantu dalam satu kompleks urunan untuk menonton bareng film itu,” kata Ilham. Suzanna pun menjadi salah satu artis dengan honor paling tinggi kala itu. Apalagi beberapa film Suzanna berikutnya juga laris.
Bersama suami pertamanya, Dicky Suprapto, Suzanna mendirikan perusahaan Tidar Djaja Film. Perusahaan ini sempat memproduksi beberapa film hingga awal 1970-an, di antaranya Tuan Tanah Kedawung, film horor Beranak Dalam Kubur, dan Bumi Makin Panas. Dua film terakhir ini disutradarai oleh Ali Shahab.
Dalam Beranak Dalam Kubur, film horor pertama Suzanna, Ali mengambilalih tugas sebagai sutradara di tengah proses produksi. Ali, mantan wartawan hiburan itu, diminta oleh Dicky menggantikan Awaludin. Menurut Ali, dia sempat menjadi make-up artist untuk Rapi Film yang didirikan oleh Gope T. Samtani pada 1968. “Saya lupa judul filmnya apa. Kebetulan yang jadi pemeran utamanya Suzanna. Karena saya makeup artist, saban hari ketemu juga, lama-lama kami jadi bersahabat,” Ali menuturkan.
-90wk21.png)
Dia,
kata Ali, memang bercita-cita jadi sutradara. Selama kuliah di Akademi
Seni Rupa Indonesia di Yogyakarta, uang kiriman orang tua lebih banyak
dia pakai untuk menonton film di bioskop. Lantaran bisa menggarap tata
rias dan efek untuk film, Dicky memintanya menjadi sutradara Beranak
Dalam Kubur. “Suzanna pun make-up-nya saya garap sendiri,” ujar Ali.
Menurut Ali, saat itu film bergenre horor di Indonesia masih langka.
“Kalau pun ada, nggak seram karena kelemahannya saat itu special effect-nya belum bagus. Kalau bikin setan, setannya kelihatan aneh.”
Film kedua Ali bersama Suzanna bukan film horor, tapi film ‘panas’, Bumi Makin Panas. Adegan-adegan ‘panas’ Suzanna yang berperan sebagai Maria, seorang pelacur, membuat peredaran film ini terjegal di sejumlah daerah. Di Cianjur, Jawa Barat, film ini tak boleh tayang di bioskop. Di Malaysia, film ini juga tak lulus sensor, walhasil gagal tayang di bioskop negeri jiran.
Cerita soal hantu saja sudah menarik, apalagi jika digabung dengan ‘paha dan dada’. Tiga hal itu, meski bukan jaminan, biasanya lumayan manjur untuk menarik penonton. Buktinya, film-film seperti itu masih terus berjaya di bioskop tanah air hingga pertengahan 1990-an. Memang ada film-film bagus dari sutradara Indonesia, tapi film-film ‘paha dan dada’ juga terus ada.
Satu-dua film Suzanna pun tetap mempertahankan resep lama itu. Hasilnya memang lumayan. Seperti film Sundel Bolong dan Petualangan Cinta Nyi Blorong, yang menjadi salah satu film paling laris di Jakarta kala itu. Menurut data Perfin pada 1987, film Petualangan Cinta Nyi Blorong ditonton oleh 290.412 orang di Jakarta. Tapi di seluruh Lampung, film ini tak boleh tayang di bioskop lantaran dianggap kelewat vulgar.
Film kedua Ali bersama Suzanna bukan film horor, tapi film ‘panas’, Bumi Makin Panas. Adegan-adegan ‘panas’ Suzanna yang berperan sebagai Maria, seorang pelacur, membuat peredaran film ini terjegal di sejumlah daerah. Di Cianjur, Jawa Barat, film ini tak boleh tayang di bioskop. Di Malaysia, film ini juga tak lulus sensor, walhasil gagal tayang di bioskop negeri jiran.
Cerita soal hantu saja sudah menarik, apalagi jika digabung dengan ‘paha dan dada’. Tiga hal itu, meski bukan jaminan, biasanya lumayan manjur untuk menarik penonton. Buktinya, film-film seperti itu masih terus berjaya di bioskop tanah air hingga pertengahan 1990-an. Memang ada film-film bagus dari sutradara Indonesia, tapi film-film ‘paha dan dada’ juga terus ada.
Satu-dua film Suzanna pun tetap mempertahankan resep lama itu. Hasilnya memang lumayan. Seperti film Sundel Bolong dan Petualangan Cinta Nyi Blorong, yang menjadi salah satu film paling laris di Jakarta kala itu. Menurut data Perfin pada 1987, film Petualangan Cinta Nyi Blorong ditonton oleh 290.412 orang di Jakarta. Tapi di seluruh Lampung, film ini tak boleh tayang di bioskop lantaran dianggap kelewat vulgar.
-c7bblb.png)
Gara-gara
urusan soal hantu, paha, dan dada ini, film Suzanna pernah pula menarik
perhatian Istana. Di depan peserta sidang Majelis Musyawarah Perfilman
Indonesia (MMPI) di Gedung Dewan Pers, pada 10 September 1982, Menteri
Penerangan Ali Moertopo mengutarakan keluhan.
Bu Tien tak ada masalah pribadi dengan Suzanna tapi memang karena perkembangan film kita saat itu yang membuat Ibu Negara resah
Bagi seorang Ali
Moertopo, seorang Letnan Jenderal Angkatan Darat dan orang yang pernah
jadi tangan kanan Presiden Soeharto dengan kekuasaan sangat besar selama
bertahun-tahun, keluhan seperti itu bukan hal biasa. Tapi ini soal
lain. Dia mengaku mendapat teguran dari Tien Soeharto soal film Sundel
Bolong yang dibintangi oleh Suzanna dan Barry Prima. Film itu, menurut
Ibu Negara Tien Soeharto, tak layak beredar di masyarakat. Namun film
itu sudah telanjur tayang di bioskop.
“Tien
Soeharto memang agak terganggu dengan perkembangan film kita di masa itu
yang cenderung seksploitasi. Masalahnya yang dihadapi adalah pasar yang
sangat menuntut hal-hal melebihi dari kemampuan atau peraturan yang
ada,” kata Ilham. Menteri Ali Moertopo juga bukannya tak mengingatkan.
Berkali-kali dia menekankan bahwa urusan komersial film adalah prioritas
ketiga setelah pendidikan dan informasi. “Bu Tien tak ada masalah
pribadi dengan Suzanna tapi memang karena perkembangan film kita saat
itu yang membuat Ibu Negara resah.”


Tidak ada komentar:
Posting Komentar